"Hi Kay, apa yang sedang kau lakukan?"
Kudengar suara di belakangku yang sudah familiar di telingaku. Dia Kenneth, tetanggaku. Sudah cukup lama kami bertetangga. Mungkin sudah 15 tahun. Cukup lama bukan?
"Hanya sedang memperhatikan langit dan beberapa orang berlalu lalang di jalanan" kataku lirih.
"Apa kau masih memikirkannya?"
"Aku tidak bisa berhenti memikirkannya Ken" ucapku menahan tangis.
Aku pun memalingkan wajahku ke arah jendela. Aku bosan terlihat cengeng di depan Ken sejak kecil. Aku ingin Ken melihatku tumbuh menjadi gadis yang kuat, Aku ingin menunjukan bahwa Kayla sekarang bukan Kayla yang dulu lagi. Tapi tetap saja selalu gagal. Ken dulu selalu menghiburku ketika aku menangis dan hingga saat ini pun seperti itu.
Namun baru aku sadari bahwa Ken tidak pernah menceritakan masalahnya padaku. Paling hanya masalah wanita- wanita yang banyak mengincarnya di sekolah atau perkelahiannya dengan sekolah tetangga. Ken Tidak pernah menceritakan masalah yang sangat pribadi seperti keluarga. Sebenarnya sudah setahun ini Ken mengalami broken home.
Kudengar langkah kaki Ken yang menghampiriku. Namun, aku mengangkat tangan tanda tak ingin dihampiri.
"Jangan kesini Ken. Aku bosan menangis didepanmu, menceritakan semua masalah kepadamu, lalu nanti kamu menghiburku dan membuat aku lebih baik. Tapi, kenapa kamu tidak pernah menceritakan masalah hidupmu padaku, Ken? Apa kamu masih berpikir bahwa aku gadis kecil cengeng yang selalu membutuhkanmu untuk kembali tersenyum? Aku sudah dewasa untuk mendengarkan masalahmu, Ken" tangisku pecah saat itu juga.
"Aku tidak berpikir seperti itu, Kay. Hanya saja aku tidak ingin berbagi masalahku karena tidak mau membuatmu khawatir. Itu saja." masih diam dibelakangku.
"Maksud kamu apa, Ken?" aku pun berbalik dan disitulah tatapan kami bertemu. Mata teduh itu yang membuatku jatuh cinta.
"Ternyata kamu tidak peka selama ini, Kay? ckck" ucap Ken sambil tersenyum meledek.
"Tidak peka apa? Jangan bikin aku bingung Ken"
"Hhhh... sejak kecil aku menyukaimu Kay. Aku pikir itu hanya cinta monyet belaka. Namun, semakin hari rasa suka itu berubah menjadi sayang. Dan sekarang aku sadar bahwa aku mencintaimu, Kay"
Ken pun menghampiriku dan mengusap air mataku yang semakin menjadi- jadi. Ucapan Ken membuatku tangisanku makin kencang. Aku sangat menungguan pengakuan Ken seperti ini. Kenapa baru sekarang dia mengatakannya?
"Dan ada satu hal lagi. Ibumu memberiku pesan sebelum... you know what I mean... untuk sellu menjagamu dan segera menikahimu" kata Ken sedikit tertawa.
"Sebut saja meninggal pun tak apa Ken. Aku sekarang sudah menerima kenyataan itu. Tapi apa tadi? Menikah? Yang benar saja. Aku kan masih muda." aku pun kembali menatap jendela. Dan kulihat dia mengambil sesuatu dari luar kamar.
"Kay, berbaliklah" kata Ken.
Sekarang ada tangan di kameranya. Dia pun sudah mengambil posisi untuk memotretku. Dan dijarinya terlihat ada tulisan kecil membentuk kata 'smile' dan otomatis membuatku tersenyum. Lalu terlihat flash muncul dari kamera. Ken tidak pernah gagal membuatku tersenyum.
"I love you, Ken" ucapku tulus.
"Love you too"
Thanks Mom, mempercainya untuk membahagiakanku. And I always smile for you, Mom
Tidak ada komentar:
Posting Komentar