Selasa, 31 Desember 2013

Don't love the one who doesn't love Allah.


"Do not love the one who doesn't love Allah. If they can leave Allah, they will leave you". -Imam Shafee'i






At KFC (Jatinangor Town Square)


kiri(dari depan ke belakang): Lita,Tami, Sufi
kanan(dari depan ke belakang): Aku (Dinna), Puri, Tika


kiri ke kanan: Puri, aku, Sufi



kiri(dari depan ke belakang): Lita,Tami, Sufi
kanan(dari depan ke belakang): Aku (Dinna), Puri, Tika


kiri ke kanan: aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi


 kiri ke kanan: Tami, aku, Sufi, Lita



kiri ke kanan: Puri, aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi


 kiri ke kanan: Puri, aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi


 kiri ke kanan: Puri, aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi


kiri ke kanan: Puri, aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi 



kiri ke kanan: Puri, aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi

Jumat, 27 Desember 2013

Faith, Hope, Love (2)


                                
“Reza? Look at this!” pintaku sambil menarik lengannya dengan lembut. Aku memperlihatkan sepasang jam couple yang terpajang indah di sebuah etalase toko aksesoris. Sudah sekitar 2 jam kami berkeliling di mall ini. Tapi tak terlihat kelelahan di wajah Reza. Tidak seperti dulu, Reza selalu malas jika aku memintanya untuk mengantarku belanja ke mall. Dia selalu beralasan, aku selalu mutar- muter  ga jelas di mall. Tapi, semenjak Reza kembali. Dia berubah menjadi lebih perhatian. Ada apa dengan perilakunya sekarang? Apa mungkin karena dia merasa bersalah karena meninggalkanku dulu? Atau adakah alasan lain?

Rabu, 18 Desember 2013

Faith, Hope, Love




“Kayla..” panggil seseorang. ”Hmm siapa?? Ini kan masih...” jawabku terpotong karena melihat seseorang yang selama ini aku rindukan. Dia datang. Dia berdiri di depan pintu kamarku. Dengan senyumnya yang selama ini aku rindukan. Dan mata itu tetap sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Mana mungkin aku lupa sorot matanya yang teduh dan menghangatkan itu. Tak kusadari, bibirku terangkat keatas membentuk sebuah senyuman yang sudah lama tak kuberikan pada siapapun.
“Kay...” panggilnya lagi. Hal itu membuatku sadar dari lamunanku. “Ha..ai.. Za” ucapku dengan sedikit gugup. Bagaimana tidak gugup? Sudah lama sekali aku tidak berbicara dengannya. Mungkin sekitar 2 tahun. Atau mungkin lebih.
“I miss you so much, Kay” ucap Reza. Belum sempat aku menjawabnya. Reza memelukku dengan eratnya. Aku rindu sekali sikap Reza yang seperti ini. Aku pun membalas pelukkan Reza. Aku pikir dengan begini pun, dia tahu bahwa aku juga sangat merindukannya.
Kenyamanan ini. Kehangatan ini. Ternyata sudah lama sekali aku tidak merasakannya. Memang benar. Selama 2 tahun ini aku tidak pernah beralih hati ke siapapun. Aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa membuka hati untuk siapapun selain Reza. Hanya saja aku percaya bahwa Reza akan kembali untuknya suatu hari nanti. Dan hal itu benar terjadi bukan?
Cukup lama kami diselimuti keheningan. Tak ada yang ingin memulai pembicaran. Sepertinya kami sama- sama menikmati saat yang pernah hilang dulu. Kenangan itupun muncul. Saat dia pergi. Meninggalkan aku tanpa kata- kata perpisahan. Hanya sepucuk surat yang aku dapat darinya.




“Kapan kamu pulang, Za?” Masih dalam pelukannya, aku pun membuka keheningan ini. “Tebak coba?” jawabnya usil. Aku pun melepaskan pelukannya. Dan berpura- pura berpikir, padahal aku ingin menatapnya mata coklatnya. Sepertinya aku terlalu lama menatapnya.

 “Kayla.. aku suruh kamu tebak, bukan mandangin aku kayak gitu. Kenapa sih emang dengan wajahku? Makin ganteng ya?” tutur Reza dengan PDnya dan mengedipkan sebelah matanya. Oke, aku akui dia semakin tampan saat ini. Tapi aku tidak sejujur itu.

“In you dream, Reza” sambil menjulurkan lidah. “Hmm, oke aku tebak. Menurut perkiraanku...” jawabku terpotong karena Reza. Tepatnya bibir Reza yang mendarat di pipiku. “Ah, lama sekali jawabanmu my peach.” Lalu Reza pun meninggalkanku yang masih mematung. Mungkin wajahku sudah seperti tomat saat ini. Dan aku merasakan kupu- kupu yang berterbangan di perutku karena Reza memanggilku my peach. Aku merindukan panggilan itu. Dan Aku lupa kapan terakhir perutku seperti ini.

Namun, aku tidak mengerti. Mengapa Reza pulang secepat ini? Dan sepertinya dia tidak akan kembali lagi ke negara Sakura itu. Karena aku mendengar Reza berbicara dengan ibuku bahwa dia berhenti kuliah. Mengapa Reza berhenti kuliah? Padahal, meneruskan kuliah di Jepang merupakan cita- citanya dari SMA. Mengapa aku berpikir ada yang tidak beres dengan semua ini? Bukankah seharusnya aku bahagia karena Reza kembali? Semoga itu hanya perasaanku saja. Everything’s gonna be right, huh?

to be continue..