Selasa, 31 Desember 2013

Don't love the one who doesn't love Allah.


"Do not love the one who doesn't love Allah. If they can leave Allah, they will leave you". -Imam Shafee'i






At KFC (Jatinangor Town Square)


kiri(dari depan ke belakang): Lita,Tami, Sufi
kanan(dari depan ke belakang): Aku (Dinna), Puri, Tika


kiri ke kanan: Puri, aku, Sufi



kiri(dari depan ke belakang): Lita,Tami, Sufi
kanan(dari depan ke belakang): Aku (Dinna), Puri, Tika


kiri ke kanan: aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi


 kiri ke kanan: Tami, aku, Sufi, Lita



kiri ke kanan: Puri, aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi


 kiri ke kanan: Puri, aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi


 kiri ke kanan: Puri, aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi


kiri ke kanan: Puri, aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi 



kiri ke kanan: Puri, aku, Syifa, Lita, Tami, Sufi

Jumat, 27 Desember 2013

Faith, Hope, Love (2)


                                
“Reza? Look at this!” pintaku sambil menarik lengannya dengan lembut. Aku memperlihatkan sepasang jam couple yang terpajang indah di sebuah etalase toko aksesoris. Sudah sekitar 2 jam kami berkeliling di mall ini. Tapi tak terlihat kelelahan di wajah Reza. Tidak seperti dulu, Reza selalu malas jika aku memintanya untuk mengantarku belanja ke mall. Dia selalu beralasan, aku selalu mutar- muter  ga jelas di mall. Tapi, semenjak Reza kembali. Dia berubah menjadi lebih perhatian. Ada apa dengan perilakunya sekarang? Apa mungkin karena dia merasa bersalah karena meninggalkanku dulu? Atau adakah alasan lain?

Rabu, 18 Desember 2013

Faith, Hope, Love




“Kayla..” panggil seseorang. ”Hmm siapa?? Ini kan masih...” jawabku terpotong karena melihat seseorang yang selama ini aku rindukan. Dia datang. Dia berdiri di depan pintu kamarku. Dengan senyumnya yang selama ini aku rindukan. Dan mata itu tetap sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Mana mungkin aku lupa sorot matanya yang teduh dan menghangatkan itu. Tak kusadari, bibirku terangkat keatas membentuk sebuah senyuman yang sudah lama tak kuberikan pada siapapun.
“Kay...” panggilnya lagi. Hal itu membuatku sadar dari lamunanku. “Ha..ai.. Za” ucapku dengan sedikit gugup. Bagaimana tidak gugup? Sudah lama sekali aku tidak berbicara dengannya. Mungkin sekitar 2 tahun. Atau mungkin lebih.
“I miss you so much, Kay” ucap Reza. Belum sempat aku menjawabnya. Reza memelukku dengan eratnya. Aku rindu sekali sikap Reza yang seperti ini. Aku pun membalas pelukkan Reza. Aku pikir dengan begini pun, dia tahu bahwa aku juga sangat merindukannya.
Kenyamanan ini. Kehangatan ini. Ternyata sudah lama sekali aku tidak merasakannya. Memang benar. Selama 2 tahun ini aku tidak pernah beralih hati ke siapapun. Aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa membuka hati untuk siapapun selain Reza. Hanya saja aku percaya bahwa Reza akan kembali untuknya suatu hari nanti. Dan hal itu benar terjadi bukan?
Cukup lama kami diselimuti keheningan. Tak ada yang ingin memulai pembicaran. Sepertinya kami sama- sama menikmati saat yang pernah hilang dulu. Kenangan itupun muncul. Saat dia pergi. Meninggalkan aku tanpa kata- kata perpisahan. Hanya sepucuk surat yang aku dapat darinya.




“Kapan kamu pulang, Za?” Masih dalam pelukannya, aku pun membuka keheningan ini. “Tebak coba?” jawabnya usil. Aku pun melepaskan pelukannya. Dan berpura- pura berpikir, padahal aku ingin menatapnya mata coklatnya. Sepertinya aku terlalu lama menatapnya.

 “Kayla.. aku suruh kamu tebak, bukan mandangin aku kayak gitu. Kenapa sih emang dengan wajahku? Makin ganteng ya?” tutur Reza dengan PDnya dan mengedipkan sebelah matanya. Oke, aku akui dia semakin tampan saat ini. Tapi aku tidak sejujur itu.

“In you dream, Reza” sambil menjulurkan lidah. “Hmm, oke aku tebak. Menurut perkiraanku...” jawabku terpotong karena Reza. Tepatnya bibir Reza yang mendarat di pipiku. “Ah, lama sekali jawabanmu my peach.” Lalu Reza pun meninggalkanku yang masih mematung. Mungkin wajahku sudah seperti tomat saat ini. Dan aku merasakan kupu- kupu yang berterbangan di perutku karena Reza memanggilku my peach. Aku merindukan panggilan itu. Dan Aku lupa kapan terakhir perutku seperti ini.

Namun, aku tidak mengerti. Mengapa Reza pulang secepat ini? Dan sepertinya dia tidak akan kembali lagi ke negara Sakura itu. Karena aku mendengar Reza berbicara dengan ibuku bahwa dia berhenti kuliah. Mengapa Reza berhenti kuliah? Padahal, meneruskan kuliah di Jepang merupakan cita- citanya dari SMA. Mengapa aku berpikir ada yang tidak beres dengan semua ini? Bukankah seharusnya aku bahagia karena Reza kembali? Semoga itu hanya perasaanku saja. Everything’s gonna be right, huh?

to be continue..

Senin, 07 Oktober 2013

It's just..

Ada saatnya sesuatu berubah.. Namun, terasa cepat menurutku..Kadang aku berpikir, aku belum siap seperti ini...
Jauh dari orang tua
jauh dari perhatian
Jauh dari pantauan

Kadang aku berpikir ini menyenangkan
Tapi disaat aku sendiri, semua itu salah
Ini memang baik untuk pembelajaran hidup
Tapi, rasa itu muncul.
Rasa rindu

Ada saatnya pertemuan
Ada saatnya pula berpisah
Kita tidak dapat mengaturnya

Ada saatnya melupakan
Ada pula saatnya dilupakan
Kita tinggal memilih.

Ingin sekali rasanya tahu..
Seberapa sering orang memikirkan aku?

Apakah akan sesering  aku memikirkan mereka?

Dan apakah di saat aku merindukan mereka,
Mereka pun akan merindukanku?

"Sometimes the hardest thing and the right thing are the same.
"

Jumat, 20 September 2013

NEW WORLD !!

HAI HAI!!! Udah lama banget ga nge blog :D sebenernya kmaren2 pengen post sesuatu. tapi gagal mulu -_- tapi sekarang udah bisa lagiii :3
Oiyaa tau gaa maksudnya new world?? *nanya ke siapa emang gue -_-*
New world ini tuh maksudnya, aku udah masuk dunia perkuliahan :)) *cie in gitu hahaha..
Disini aku mau share gimana rasanya kuliah, ngekos, jauh dari orang tua :(

Pertama, soal kuliah. Ada yang tau ga aku kuliah dimanaa?? Aku kuliah di Unpad. Yaitu Universitas Padjajaran, pada tau kan unpad?? :)) Itu looh yang di bandung.. Eh salah deng jatinangor.. Ga tau kan jatinangor?? Tapi ada kok di maps google :(
Awalnyaaa, aku tuh pengen banget kuliah di UGM..Tapiii, kata UGM, kasian kejauhan katanya kalo aku di terima (?) *apasih gue -_-* #efekgagallolosugm
Eiitts tapi tunggu dulu,, aku bersyukur banget diterima di UNPAD.. Seiring dengan berjalannya waktu,, cinta itu tumbuh untuk unpad #cie.. Aku bangga banget jadi anak unpad :))
Okesiip beralih ke yang lebih nyantai. Mmm apa yaaa..
Oiyaa, aku masih dalam tahap mabim loooh..Mabim itu masa bimbingan. sebenernya semacam ospek jurusan gitu.. nah loh? Emang aku jurusan apa?? Hehe.. Aku dari jurusan matematika :))
Okee lanjut.. Mabim ini diadain tiap hari sabtu.. Jadii aku libur cuman minggu ajaa :(
Terus, Kuliah itu beda banget sama SMA, tugasnya banyak.. Sebenernya dikit sih.. Cuman kebanyakan tugasnya itu nulis.. Dan aku ga suka nulis laaah :(((

Terus jauh dari orang tua itu harus nyuci sendiri, beres beres sendiri, nyari makan sendiri, beli kebutuhan sendiri... Tapi inget! HARUS HEMAT!! wkwk
Prioritas kebutuhan utama itu makan! Jadi segala kebutuhan dipertimbangkan dengan makanan. Makan itu paling utama.. Tapi harus dijaga makannya.. Jangan asal makan. Kalo sakit ga ada yang ngurusin :(

Maybe just it!! eh engga deng.. Lanjut kapan2 deeh :D




Kamis, 11 April 2013

My Fanfict " Everything is Perfect"

10 Februari 2013
*Alice’s POV*
Kring... Kring... Kring
Oh God. Jam berapa ini? Siapa yang memasang alarm jam segini dan SEKERAS ini?. Nggak bisa apa bikin orang tenang sedikit? Aku tahu ini kerjaan siapa! Siapa lagi kalau bukan kakakku ‘tersayang’.
“LIIIAAM PAAYYNNNEE!!!!!!!!!!” teriakku sambil menuruni tangga menuju kamarnya. Mmm.. ternyata dia masih tidur. Aku punya ide. Aku pun bergegas ke dapur mengambil 2 buah sendok dan kembali ke kamarnya.
“Liaaam! Wake up liam! Udah jam berapa ini!?” sekarang suaraku tidak terlalu toa seperti tadi. Ketika dia mulai membuka matanya perlahan- lahan, dia langsung berteriak sejadi- jadinya dan lari keluar kamar. Kalian tahu kenapa dia seperti itu??..Haha, karena kakakku satu- satunya ini takut sekali dengan sendok. Lucu bukan?
Aku langsung mengejarnya ke dapur, dan ternyata dia ngumpet di balik Mom. Oh, pengecut sekali dia. Oke, Mom memang lebih memanjakan Liam dibanding aku. Tapi tidak dengan Dad, Dad selalu memihak padaku walaupun aku salah.
“Kalian ini apa- apaan sih? Pagi- pagi sudah ribut seperti ini?” tanya Mom.
“Liam ...” ucapku, yang langsung dipotong oleh Liam.
“Mom, Alice membangunkan aku dengan sendok. Bayangkan Mom? With spoon Mom?” potong Liam.
“Alice, kamu kan tahu kakakmu ini takut sekali dengan sendok. Kenapa kamu membangunkannya dengan sendok?” bela Mom.
“Tapi, Liam duluan Mom. Dia memasang alarm jam 5 di kamarku.” bantahku.
“It’s good babe. Jadi, kamu tidak akan kesiangan.” ucap Mom. Liam menjulurkan lidahnya ke arahku. Shit! Liam menang lagi.
“But, Mom....”
“Sudahlah, sekarang mandi sana! Kamu juga Liam! Apa kalian mau kesiangan? Percuma kalian bangun pagi.” perintah Mom.
“Okay” jawabku singkat. Aku bergegas ke kamar mandi dan meninggalkan Mom and Liam.
Setelah mandi, kubiarkan rambut coklatku terurai. Aku malas mengikatnya. Nggak keburu.
“Alice! Come on! Kita kesiangan nih, lama banget sih kamu.” teriak Liam.
“Okay, aku turun. Bawel banget sih!”



*Skip*
At school.
Sebelum lebih jauh lagi. Kenalin namaku Alice Carollina Payne. Dan Liam James Payne adalah kakakku. Umurku berbeda 3 tahun dengan Liam. And you know Liam adalah personil One Direction. Sebenarnya, I’M DIRECTIONER. Dan aku ngefans berat sama Zayn Malik. Tapi, Liam nggak tahu tentang itu. Aku malu. Sebenarnya, hubunganku dengan personil One Direction cukup dekat. And it’s make me fallin’ in love with Zayn. Ups. Persisnya kapan itu terjadi, aku nggak tahu.
“Al, nih buat kamu.” tiba- tiba seseorang membuyarkan lamunanku dan menyodorkan sesuatu kepadaku. Dan aku baru sadar ternyata orang itu Zayn. Karena, hanya Zayn yang memanggilku dengan sebutan ‘Al’. Panggilan sayang mungkin. Haha.
“Apa ini?” tanyaku polos.
“Itu undangan ulang tahunku, kamu inget kan? Atau kamu lupa?” ucap Zayn, sambil memasang muka yang pura- pura kecewa. Oh he’s so cute.
“Oh, nggak kok. Aku nggak mungkin lupalah sama ulang tahun kamu.” ucapku sambil tersenyum senang.
“Bagus kalau gitu. Datang ya Al.” ucap Zayn sambil mencubit pipiku. Lalu meninggalkanku yang masih terpaku. Kurasa pipiku memanas. Bukan karena sakitnya cubitan itu, tapi mungkin karena darahku yang memanas.
Teet... teet.....
Bel berbunyi. Aku pun masuk ke kelas, sambil setengah melamun, atau mungkin memang melamun. Sepertinya aku tak akan bisa mengikuti pelajaran hari ini dengan baik. Dan itu karena Zayn.




*Skip*
At home.
*Liam’s POV*
“Lice, Alice.” Panggilku.
Tapi tak ada jawaban dari Alice. Oh, ternyata dia sedang melamun. Di sedang dalam posisi tengkurap di tempat tidurnya dengan secarik kertas ditangannya.
“Hi Lice, aku panggil dari tadi kok diem aja.” ucapku sambil mencolek bahunya dan membaringkan tubuhku di sampingnya.
“Eh, sorry Li. Aku nggak denger. Hehe.” ucapnya terkekeh.
“It’s okay. Sorry juga aku ganggu lamunan kamu.” timpalku sambil mengedipkan mata.
Tak disangka wajahnya langsung memerah seperti tomat. Oooh, she’s so cute. Haha. Aku tahu apa yang membuat wajahnya memerah.
“Eh..si..apa yang mm.. ngelamun?” ucapnya malu- malu. Alice pun menundukan kepalanya. Mungkin dia sadar aku melihat wajahnya yang memerah.
“Aku tahu semuanya kok.” Ucapku tersenyum jahil. Alice terpaku mendengar ucapanku.
“Yaudah tidur gih! Udah malem. Good night.” ucapku sambil mencium pipinya. Aku tahu ,sepertinya dia masih terbengong- bengong dengan ucapanku tadi. Aku pun melangkahkan kaki keluar kamarnya.
*Alice’s POV*
Aku bengong sejadi- jadinya. Maksud Liam tahu semuanya itu apa? Apa dia tahu perasaanku pada Zayn? Oh God, apa kelakuanku selama ini terlihat seperti menyukai Zayn? Bagaimana jika Zayn pun menyadari aku menyukainya? Lalu apa yang akan ada di pikiran Zayn? Apa dia akan mentertawakanku? Yups. Zayn akan mentertawakanku. Jelas- jelas Zayn sudah punya pacar, Perrie. Cantik, pintar, penyanyi pula. Tak perlu lagi membandingkannya denganku.
Tiba- tiba....
“Oh iya Lice. Aku lupa bilang sama kamu. ‘Dia’ sudah putus kok 3 hari yang lalu. So? Good luck, babe.” ucap Liam yang tiba- tiba muncul di pintu kamarku. Lalu dia pun menghilang kembali dan meninggalkan sejuta pertanyaan untukku. Maksudnya siapa yang sudah putus?




11 Februari 2013
*Zayn’s POV*
Hmm. Aku tak sabar menunggu hari esok datang. Apakah dia akan datang? Aku sangat berharap di datang. Apakah dia akan senang nanti dengan rencanaku? Aku tidak tahu. Aku tak dapat membayangkan betapa cantiknya dia nanti memakai gaun itu. Aku tak sabar ingin melihatnya.
Okay. Mungkin kalian bingung dengan kata ‘dia’. Atau mungkin kamu sedang mencoba menebak siapa itu ‘dia’. Yups, jawaban kamu benar. Dia adalah Alice Carollina Payne. Dia adalah adik sahabatku, Liam James Payne. Aku sudah menyukainya sejak pertama aku melihatnya. Atau mungkin tidak. Ya, tidak. Aku tak tahu tepatnya kapan. Tapi, aku menyukainya mungkin karena, aku sering mendengarkan Liam menceritakan tentang Alice. Saat itu Alice tinggal bersama neneknya di New York. Tapi aku tahu, Liam sering menelepon adiknya itu. Dan selalu menceritakan apa saja yang dia bicarakan dengan Alice. Dan semenjak saat itu aku mulai menyukai Alice. Walaupun, hanya dengan mendengar cerita Liam saja, aku menyukai kepribadian Alice. Tapi, saat Alice pindah ke London, dan aku bisa berkenalan dengannya. Aku merasakan perasaan ini mulai membesar. You know. I love her.
“HI, MATE, AKU MEMANGGILMU DARI TADI!!” teriak Louis di telingaku. Aku mengernyit sambil memegang telingaku yang berdengung- dengung karena teriakan Louis.
“YA, aku dengar Lou.” ucapku sambil memutar mataku.
“Aku tahu!” ucap Louis bersemangat.
“Tahu apa?” ucapku bingung.
“Kau pasti sedang memikirkan Alice!” teriaknya. “ Oh mate, ternyata kau memang benar- benar jatuh cinta padanya.” ucapnya sambil tersenyum jahil.
“Mmm, maybe yes” ucapku sambil menerawang.
J J J
12 Februari 2013
*Alice’s POV*
“Mudah- mudahan Zayn suka dengan kado ini.” ucapku pada diriku sendiri. Lalu aku memasang selotip terakhir pada bungkus kado tersebut.
Lalu aku bersiap- siap mengganti bajuku. Aku memakai gaun pemberian Liam. Aku bingung. Biasanya Liam tidak pernah memberiku gaun. Untuk apa coba?
Ternyata gaun itu pas di tubuhku. Gaun berlengan terbuka berwarrna hijau tosca itu sangat indah sekali. Dengan tambahan pita di bagian samping pinggang. Aku pun menambahkankan make up tipis pada wajahku dan aksesoris jepit berukuran sedikit besar berwarna hijau tua, pada rambutku. Lalu aku mengambil sepatu high heels berwarna hijau tua dari lemari sepatuku. Sebenarnya, aku tidak terlalu nyaman memakai high heels. Tapi, aku harus terlihat cantik di hadapan Zayn. Hm. Zayn lagi. Zayn lagi. Apa yang aku harapkan dari Zayn?
“ALICE! ALICE! ALICE!” teriak liam sambil berlari ke kamarnya.
“Ada apa sih? Kok panik gitu?” ucapku sedikit cemas. Mengapa aku merasa ada yang salah?
“Zayn, Lice. Zaaayyn..hh.. Zayn kecelakaan!”
“APA?? ZAYN KECELAKAAN?” teriakku pada Liam. Ini nggak mungkin. Liam pasti bohong. Mungkin dia hanya mengerjaiku. Aku tidak mempercayai Liam.
“Iya Lice. Dia sekarang masih dalam perawatan di rumah sakit dekat rumah Niall. Dia kritis Lice.” ucap Liam terengah- engah.
Apa? Nggak mungkin. Zayn nggak mungkin kecelakaan. Ini pasti hanya lelucon. Tak terasa air mataku mulai keluar. Aku tak dapat menahannya. God. I love him. Jangan biarkan Zayn meninggalkan aku. Tanpa berpikir panjang. Aku langsung meraih kunci mobil Liam di tangannya, dan bergegas turun ke bawah. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Aku nggak mau semuanya terlambat.
*Skip*
At hospital
Aku bertemu dengan Harry dan Louis. Dimana Niall? Oh. Tidak penting. Mereka sedang duduk di bangku tunggu pasien. Mereka terlihat pucat sekali. Aku pun dapat melihat mata mereka yang merah dan bengkak.
“Hi Alice. Kau boleh masuk.” Ucap Harry menunjuk sebuah ruangan tertutup.
Aku pun langsung bergegas masuk. Aku tak dapat menahan air mataku. Tangisku pecah kembali. Tapi ini lebih deras dari sebelumnya. Aku tidak tahan melihat banyak selang dan perban yang mengerumuni Zayn. Apalagi melihat monitor detak jantung itu... aku tidak tega. Tapi aku harus kuat. Aku pun perlahan mengahampiri orang yang terbaring lemah itu. Ya, Zayn.
Aku pun duduk di kursi, tepat di sebalah kanan Zayn. Aku memegang tangannya yang putih, kaku dan dingin. Aku menempelkan tangannya ke pipiku. Air mataku pun membasahi tangannya.
“ Zayn, ini aku. Alice. Bangun Zayn...Tolong kamu bangun....Aku..nggak mau kehilangan kamu Zayn. Aku sayang sama kamu Zayn.”
“Sebenarnya sejak dulu aku ngefans sama kamu Zayn.” ucapku jujur sambil sedikit terkekeh.
“Ditambah Liam selalu membicarakanmu di telepon. Oh iya! Dia pernah menceritakan tentang kamu yang tidak bisa gitar. Lucu sekali. Tapi aku tak pernah memberitahumu. Aku pikir orang seperti kamu bisa bermain gitar.” Ucapku tersenyum pahit.
“Kamu tahu nggak? Pertama aku kenalan sama kamu, aku tuh seneng banget. Mungkin saat itu mukaku merah seperti tomat. Haha.” ucapku sambil tertawa menghibur diri.
“Zayn, cepatlah sadar. Jangan membuat semua orang khawatir, okay?” tak terasa air mata itu muncul kembali.
“Aku nggak tahu. Apakah aku bisa hidup tanpa senyummu? Candamu? Sifat jahilmu? Cerita konyolmu? Dan semua tentang kamu? Mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi itu benar.” tangisku makin menjadi- jadi.
“Happy birthday. And I love you so much, Zayn” ucapku lirih sambil mencium punggung tangan Zayn beberapa saat. Lalu pergi meninggalkannya.
*Zayn’s POV*
Aku mendengar semuanya. Semua yang Alice katakan. Semua cerita tentangku. Aku tak dapat menahn air mataku untuk jatuh. Ternyata dia mencintaiku.Yups, Alice mencintaiku. Perlahan aku membuka mataku dan melihat Alice yang pergi menjauh dariku.
“Al, Alice.” ucapku lirih. Namun Alice dapat mendengarnya. Dia menatapku sambil tersenyum senang. Lalu bergegas menghampiriku.
“Zayn! Kamu sudah sadar! Aku mencemaskanmu Zayn.” ucapnya sambil memegang tanganku erat. Aku pun membalas mengeratkan tanganku.
“Kamu terlihat cantik dengan gaun itu Al. Ternyata aku tidak salah memilihkannya untukmu.”
Alice pun terbengong karena ucapanku. Hmm. She’s so beautiful and cute.
“Jadi, ini...”ucap Alice dengan wajah tak percaya. Aku hanya mengangguk tersenyum.
“Oh iya. Happy Birthday Zayn. Tapi kadonya ketinggalan Zayn.” ucapnya cemberut.
“Tidak perlu.”
“Kenapa?” tanyanya polos.
“Just give your heart. It’s enough.” Ucapku lirih. Wajahnya langsung memerah dan terlihat shock. Sebenarnya aku tak bermaksud begitu. Tapi sudahlah.
“Mak..sud...kamu,...?”
“Aku mendengar semuanya Al.”
*Alice’s POV
“HAH? Jadi kamu tadi udah sadar?” ucapku panik. Oh God. Gimana ini. Ini sangat memalukan sekali. Sekarang Zayn sudah tahu semuanya. Please help me. Siapapun.
“Lupakan persoalan yang tadi.” ucapku. Namun Zayn tidak bereaksi.
“Oiya. Aku lapar sekali. Aku mau cari makan dulu ya Zayn?” ucapku mengalihkan pembicaran. Lalu aku bergegas berdiri. Namun, seseorang menarik tanganku. Siapa lagi kalau bukan Zayn.
“Alice, I love you. So much.” ucap Zayn padaku. Aku pun terpaku. Sangat terpaku. Apa aku sedang bermimpi? Tapi kenapa tangan Zayn terasa nyata. Ini nyata!
“Apa kamu bilang Zayn?”ucapku masih tak percaya.
“Sudah lama aku menyukai kamu, karena Liam sering menceritakan kamu kepadaku.” ucapnya jujur kepadaku.
“I LOVE YOU LIIIAAAM!!!” teriakku sekeras- kerasnya.
“Kok Liam?” tanyanya bingung.
“Karena, dengan tidak kita sadari. Liam adalah perantara kita berdua Zayn!”
“Ya, kamu benar Al!” ucapnya sambil mencium tanganku. Mukaku langsung memerah, karena perlakuan Zayn.
*Zayn’s POV*
“Z...” ucapnya ragu.
“Kenapa? Sekarang kita impas. Dan ini baru awal” ucapku sambil mengedipkan sebelah mataku. Dan bam! Wajahnya tambah memerah seperti tomat. Lucu sekali dia.
“I love you Zayn Malik!! I love you fuuuulllllll!” ucapnya sambil memelukku.
“I love you too, Alice Payne.” balasku lalu mencium keningnya. Tapi dia malah melepaskan pelukannya.
“Kenapa cuman Alice Payne?” ucapnya cemberut. Sambil menyimpan tangan di dadanya
“Kamu juga. Kenapa hanya Zayn Malik?” timpalku yang membuatnya tersenyum. Lalu dia memelukku kembali.
Thanks God. Everything is perfect.