10 Februari 2013
*Alice’s POV*
Kring... Kring... Kring
Oh God. Jam berapa ini? Siapa yang
memasang alarm jam segini dan SEKERAS ini?. Nggak bisa apa bikin orang tenang sedikit?
Aku tahu ini kerjaan siapa! Siapa lagi kalau bukan kakakku ‘tersayang’.
“LIIIAAM PAAYYNNNEE!!!!!!!!!!”
teriakku sambil menuruni tangga menuju kamarnya. Mmm.. ternyata dia masih
tidur. Aku punya ide. Aku pun bergegas ke dapur mengambil 2 buah sendok dan
kembali ke kamarnya.
“Liaaam! Wake up liam! Udah jam
berapa ini!?” sekarang suaraku tidak terlalu toa seperti tadi. Ketika dia mulai
membuka matanya perlahan- lahan, dia langsung berteriak sejadi- jadinya dan
lari keluar kamar. Kalian tahu kenapa dia seperti itu??..Haha, karena kakakku
satu- satunya ini takut sekali dengan sendok. Lucu bukan?
Aku langsung mengejarnya ke
dapur, dan ternyata dia ngumpet di
balik Mom. Oh, pengecut sekali dia. Oke, Mom memang lebih memanjakan Liam
dibanding aku. Tapi tidak dengan Dad, Dad selalu memihak padaku walaupun aku
salah.
“Kalian ini apa- apaan sih? Pagi-
pagi sudah ribut seperti ini?” tanya Mom.
“Liam ...” ucapku, yang langsung
dipotong oleh Liam.
“Mom, Alice membangunkan aku
dengan sendok. Bayangkan Mom? With spoon Mom?” potong Liam.
“Alice, kamu kan tahu kakakmu ini
takut sekali dengan sendok. Kenapa kamu membangunkannya dengan sendok?” bela
Mom.
“Tapi, Liam duluan Mom. Dia
memasang alarm jam 5 di kamarku.” bantahku.
“It’s good babe. Jadi, kamu tidak
akan kesiangan.” ucap Mom. Liam menjulurkan lidahnya ke arahku. Shit! Liam menang
lagi.
“But, Mom....”
“Sudahlah, sekarang mandi sana!
Kamu juga Liam! Apa kalian mau kesiangan? Percuma kalian bangun pagi.” perintah
Mom.
“Okay” jawabku singkat. Aku
bergegas ke kamar mandi dan meninggalkan Mom and Liam.
Setelah mandi, kubiarkan rambut
coklatku terurai. Aku malas mengikatnya. Nggak keburu.
“Alice! Come on! Kita kesiangan
nih, lama banget sih kamu.” teriak Liam.
“Okay, aku turun. Bawel banget
sih!”
*Skip*
At school.
Sebelum lebih jauh lagi. Kenalin
namaku Alice Carollina Payne. Dan Liam James Payne adalah kakakku. Umurku
berbeda 3 tahun dengan Liam. And you know Liam adalah personil One Direction.
Sebenarnya, I’M DIRECTIONER. Dan aku ngefans berat sama Zayn Malik. Tapi, Liam
nggak tahu tentang itu. Aku malu. Sebenarnya, hubunganku dengan personil One
Direction cukup dekat. And it’s make me fallin’ in love with Zayn. Ups. Persisnya
kapan itu terjadi, aku nggak tahu.
“Al, nih buat kamu.” tiba- tiba
seseorang membuyarkan lamunanku dan menyodorkan sesuatu kepadaku. Dan aku baru
sadar ternyata orang itu Zayn. Karena, hanya Zayn yang memanggilku dengan
sebutan ‘Al’. Panggilan sayang mungkin. Haha.
“Apa ini?” tanyaku polos.
“Itu undangan ulang tahunku, kamu
inget kan? Atau kamu lupa?” ucap
Zayn, sambil memasang muka yang pura- pura kecewa. Oh he’s so cute.
“Oh, nggak kok. Aku nggak mungkin
lupalah sama ulang tahun kamu.” ucapku sambil tersenyum senang.
“Bagus kalau gitu. Datang ya Al.”
ucap Zayn sambil mencubit pipiku. Lalu meninggalkanku yang masih terpaku.
Kurasa pipiku memanas. Bukan karena sakitnya cubitan itu, tapi mungkin karena
darahku yang memanas.
Teet... teet.....
Bel berbunyi. Aku pun masuk ke
kelas, sambil setengah melamun, atau mungkin memang melamun. Sepertinya aku tak
akan bisa mengikuti pelajaran hari ini dengan baik. Dan itu karena Zayn.
*Skip*
At home.
*Liam’s POV*
“Lice, Alice.” Panggilku.
Tapi tak ada jawaban dari Alice.
Oh, ternyata dia sedang melamun. Di sedang dalam posisi tengkurap di tempat
tidurnya dengan secarik kertas ditangannya.
“Hi Lice, aku panggil dari tadi
kok diem aja.” ucapku sambil mencolek bahunya dan membaringkan tubuhku di
sampingnya.
“Eh, sorry Li. Aku nggak denger. Hehe.”
ucapnya terkekeh.
“It’s okay. Sorry juga aku ganggu
lamunan kamu.” timpalku sambil mengedipkan mata.
Tak disangka wajahnya langsung
memerah seperti tomat. Oooh, she’s so cute. Haha. Aku tahu apa yang membuat
wajahnya memerah.
“Eh..si..apa yang mm.. ngelamun?”
ucapnya malu- malu. Alice pun menundukan kepalanya. Mungkin dia sadar aku
melihat wajahnya yang memerah.
“Aku tahu semuanya kok.” Ucapku
tersenyum jahil. Alice terpaku mendengar ucapanku.
“Yaudah tidur gih! Udah malem. Good night.” ucapku
sambil mencium pipinya. Aku tahu ,sepertinya dia masih terbengong- bengong
dengan ucapanku tadi. Aku pun melangkahkan kaki keluar kamarnya.
*Alice’s POV*
Aku bengong sejadi- jadinya.
Maksud Liam tahu semuanya itu apa? Apa dia tahu perasaanku pada Zayn? Oh God,
apa kelakuanku selama ini terlihat seperti menyukai Zayn? Bagaimana jika Zayn
pun menyadari aku menyukainya? Lalu apa yang akan ada di pikiran Zayn? Apa dia
akan mentertawakanku? Yups. Zayn akan mentertawakanku. Jelas- jelas Zayn sudah
punya pacar, Perrie. Cantik, pintar, penyanyi pula. Tak perlu lagi
membandingkannya denganku.
Tiba- tiba....
“Oh iya Lice. Aku lupa bilang
sama kamu. ‘Dia’ sudah putus kok 3 hari yang lalu. So? Good luck, babe.” ucap
Liam yang tiba- tiba muncul di pintu kamarku. Lalu dia pun menghilang kembali
dan meninggalkan sejuta pertanyaan untukku. Maksudnya siapa yang sudah putus?
11 Februari 2013
*Zayn’s POV*
Hmm. Aku tak sabar menunggu hari
esok datang. Apakah dia akan datang? Aku sangat berharap di datang. Apakah dia
akan senang nanti dengan rencanaku? Aku tidak tahu. Aku tak dapat membayangkan
betapa cantiknya dia nanti memakai gaun itu. Aku tak sabar ingin melihatnya.
Okay. Mungkin kalian bingung
dengan kata ‘dia’. Atau mungkin kamu sedang mencoba menebak siapa itu ‘dia’.
Yups, jawaban kamu benar. Dia adalah Alice Carollina Payne. Dia adalah adik
sahabatku, Liam James Payne. Aku sudah menyukainya sejak pertama aku
melihatnya. Atau mungkin tidak. Ya, tidak. Aku tak tahu tepatnya kapan. Tapi,
aku menyukainya mungkin karena, aku sering mendengarkan Liam menceritakan tentang
Alice. Saat itu Alice tinggal bersama neneknya di New York. Tapi aku tahu, Liam
sering menelepon adiknya itu. Dan selalu menceritakan apa saja yang dia
bicarakan dengan Alice. Dan semenjak saat itu aku mulai menyukai Alice.
Walaupun, hanya dengan mendengar cerita Liam saja, aku menyukai kepribadian
Alice. Tapi, saat Alice pindah ke London, dan aku bisa berkenalan dengannya.
Aku merasakan perasaan ini mulai membesar. You know. I love her.
“HI, MATE, AKU MEMANGGILMU DARI
TADI!!” teriak Louis di telingaku. Aku mengernyit sambil memegang telingaku
yang berdengung- dengung karena teriakan Louis.
“YA, aku dengar Lou.” ucapku
sambil memutar mataku.
“Aku tahu!” ucap Louis
bersemangat.
“Tahu apa?” ucapku bingung.
“Kau pasti sedang memikirkan
Alice!” teriaknya. “ Oh mate, ternyata kau memang benar- benar jatuh cinta padanya.”
ucapnya sambil tersenyum jahil.
“Mmm, maybe yes” ucapku sambil
menerawang.
J J J
12 Februari 2013
*Alice’s POV*
“Mudah- mudahan Zayn suka dengan
kado ini.” ucapku pada diriku sendiri. Lalu aku memasang selotip terakhir pada
bungkus kado tersebut.
Lalu aku bersiap- siap mengganti
bajuku. Aku memakai gaun pemberian Liam. Aku bingung. Biasanya Liam tidak
pernah memberiku gaun. Untuk apa coba?
Ternyata gaun itu pas di tubuhku.
Gaun berlengan terbuka berwarrna hijau tosca
itu sangat indah sekali. Dengan tambahan pita di bagian samping pinggang.
Aku pun menambahkankan make up tipis pada wajahku dan aksesoris jepit berukuran
sedikit besar berwarna hijau tua, pada rambutku. Lalu aku mengambil sepatu high
heels berwarna hijau tua dari lemari sepatuku. Sebenarnya, aku tidak terlalu
nyaman memakai high heels. Tapi, aku harus terlihat cantik di hadapan Zayn. Hm.
Zayn lagi. Zayn lagi. Apa yang aku harapkan dari Zayn?
“ALICE! ALICE! ALICE!” teriak
liam sambil berlari ke kamarnya.
“Ada apa sih? Kok panik gitu?”
ucapku sedikit cemas. Mengapa aku merasa ada yang salah?
“Zayn, Lice. Zaaayyn..hh.. Zayn
kecelakaan!”
“APA?? ZAYN KECELAKAAN?” teriakku
pada Liam. Ini nggak mungkin. Liam pasti bohong. Mungkin dia hanya mengerjaiku.
Aku tidak mempercayai Liam.
“Iya Lice. Dia sekarang masih
dalam perawatan di rumah sakit dekat rumah Niall. Dia kritis Lice.” ucap Liam
terengah- engah.
Apa? Nggak mungkin. Zayn nggak
mungkin kecelakaan. Ini pasti hanya lelucon. Tak terasa air mataku mulai
keluar. Aku tak dapat menahannya. God. I love him. Jangan biarkan Zayn
meninggalkan aku. Tanpa berpikir panjang. Aku langsung meraih kunci mobil Liam
di tangannya, dan bergegas turun ke bawah. Aku harus ke rumah sakit sekarang.
Aku nggak mau semuanya terlambat.
*Skip*
At hospital
Aku bertemu dengan Harry dan
Louis. Dimana Niall? Oh. Tidak penting. Mereka sedang duduk di bangku tunggu
pasien. Mereka terlihat pucat sekali. Aku pun dapat melihat mata mereka yang
merah dan bengkak.
“Hi Alice. Kau boleh masuk.” Ucap
Harry menunjuk sebuah ruangan tertutup.
Aku pun langsung bergegas masuk.
Aku tak dapat menahan air mataku. Tangisku pecah kembali. Tapi ini lebih deras
dari sebelumnya. Aku tidak tahan melihat banyak selang dan perban yang
mengerumuni Zayn. Apalagi melihat monitor detak jantung itu... aku tidak tega. Tapi
aku harus kuat. Aku pun perlahan mengahampiri orang yang terbaring lemah itu.
Ya, Zayn.
Aku pun duduk di kursi, tepat di
sebalah kanan Zayn. Aku memegang tangannya yang putih, kaku dan dingin. Aku
menempelkan tangannya ke pipiku. Air mataku pun membasahi tangannya.
“ Zayn, ini aku. Alice. Bangun
Zayn...Tolong kamu bangun....Aku..nggak mau kehilangan kamu Zayn. Aku sayang
sama kamu Zayn.”
“Sebenarnya sejak dulu aku
ngefans sama kamu Zayn.” ucapku jujur sambil sedikit terkekeh.
“Ditambah Liam selalu
membicarakanmu di telepon. Oh iya! Dia pernah menceritakan tentang kamu yang
tidak bisa gitar. Lucu sekali. Tapi aku tak pernah memberitahumu. Aku pikir
orang seperti kamu bisa bermain gitar.” Ucapku tersenyum pahit.
“Kamu tahu nggak? Pertama aku
kenalan sama kamu, aku tuh seneng banget. Mungkin saat itu mukaku merah seperti
tomat. Haha.” ucapku sambil tertawa menghibur diri.
“Zayn, cepatlah sadar. Jangan
membuat semua orang khawatir, okay?” tak terasa air mata itu muncul kembali.
“Aku nggak tahu. Apakah aku bisa
hidup tanpa senyummu? Candamu? Sifat jahilmu? Cerita konyolmu? Dan semua
tentang kamu? Mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi itu benar.” tangisku makin
menjadi- jadi.
“Happy birthday. And I love you
so much, Zayn” ucapku lirih sambil mencium punggung tangan Zayn beberapa saat.
Lalu pergi meninggalkannya.
*Zayn’s POV*
Aku mendengar semuanya. Semua
yang Alice katakan. Semua cerita tentangku. Aku tak dapat menahn air mataku
untuk jatuh. Ternyata dia mencintaiku.Yups, Alice mencintaiku. Perlahan aku
membuka mataku dan melihat Alice yang pergi menjauh dariku.
“Al, Alice.” ucapku lirih. Namun
Alice dapat mendengarnya. Dia menatapku sambil tersenyum senang. Lalu bergegas
menghampiriku.
“Zayn! Kamu sudah sadar! Aku
mencemaskanmu Zayn.” ucapnya sambil memegang tanganku erat. Aku pun membalas mengeratkan
tanganku.
“Kamu terlihat
cantik dengan gaun itu Al. Ternyata aku tidak salah memilihkannya untukmu.”
Alice pun
terbengong karena ucapanku. Hmm. She’s so beautiful and cute.
“Jadi,
ini...”ucap Alice dengan wajah tak percaya. Aku hanya mengangguk tersenyum.
“Oh iya. Happy
Birthday Zayn. Tapi kadonya ketinggalan Zayn.” ucapnya cemberut.
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
tanyanya polos.
“Just give your
heart. It’s enough.” Ucapku lirih. Wajahnya langsung memerah dan terlihat
shock. Sebenarnya aku tak bermaksud begitu. Tapi sudahlah.
“Mak..sud...kamu,...?”
“Aku mendengar
semuanya Al.”
*Alice’s POV
“HAH? Jadi kamu
tadi udah sadar?” ucapku panik. Oh God. Gimana ini. Ini sangat memalukan
sekali. Sekarang Zayn sudah tahu semuanya. Please help me. Siapapun.
“Lupakan persoalan
yang tadi.” ucapku. Namun Zayn tidak bereaksi.
“Oiya. Aku
lapar sekali. Aku mau cari makan dulu ya Zayn?” ucapku mengalihkan pembicaran.
Lalu aku bergegas berdiri. Namun, seseorang menarik tanganku. Siapa lagi kalau
bukan Zayn.
“Alice, I love
you. So much.” ucap Zayn padaku. Aku pun terpaku. Sangat terpaku. Apa aku
sedang bermimpi? Tapi kenapa tangan Zayn terasa nyata. Ini nyata!
“Apa kamu
bilang Zayn?”ucapku masih tak percaya.
“Sudah lama aku
menyukai kamu, karena Liam sering menceritakan kamu kepadaku.” ucapnya jujur
kepadaku.
“I LOVE YOU
LIIIAAAM!!!” teriakku sekeras- kerasnya.
“Kok Liam?”
tanyanya bingung.
“Karena, dengan
tidak kita sadari. Liam adalah perantara kita berdua Zayn!”
“Ya, kamu benar
Al!” ucapnya sambil mencium tanganku. Mukaku langsung memerah, karena perlakuan
Zayn.
*Zayn’s POV*
“Z...” ucapnya
ragu.
“Kenapa?
Sekarang kita impas. Dan ini baru awal” ucapku sambil mengedipkan sebelah
mataku. Dan bam! Wajahnya tambah memerah seperti tomat. Lucu sekali dia.
“I love you
Zayn Malik!! I love you fuuuulllllll!” ucapnya sambil memelukku.
“I love you
too, Alice Payne.” balasku lalu mencium keningnya. Tapi dia malah melepaskan
pelukannya.
“Kenapa cuman
Alice Payne?” ucapnya cemberut. Sambil menyimpan tangan di dadanya
“Kamu juga.
Kenapa hanya Zayn Malik?” timpalku yang membuatnya tersenyum. Lalu dia
memelukku kembali.
Thanks God.
Everything is perfect.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar